TORAJA UTARA | BNRI NEWS
Roland Hutasoit, Sebagai Ketua LSM WASINDO KALTIM ( Pengawas Independen Kalimantan Timur) memberikan apresiasi kepada Bupati Toraja Utara, Frederik Victor Palimbong menyatakan tidak akan menggunakan Alphard, melainkan mobil listrik sebagai kendaraan operasional atau mobil dinas.
"Jadi bukan Alphard, tapi mobil listrik yang lebih hemat dan ramah lingkungan," jelas Frederick Victor Palimbong, Minggu (30/3/2025).
Jawaban Bupati ini sekaligus meluruskan informasi yang beredar di masyarakat tentang pengadaan mobil dinas jenis Toyota Alphard seharga Rp 1,8 miliar oleh Pemkab Toraja Utara.
Meski begitu, Dedy sapaanya, membenarkan bahwa berdasarkan APBD tahun 2025 yang sudah disahkan pada akhir tahun lalu (saat dirinya belum jadi Bupati), terdapat mata anggaran untuk pengadaan kendaraan dinas operasional Bupati dan Wakil Bupati.
"Anggaran kan sudah direncanakan dan disahkan akhir tahun lalu. Setelah kita lihat kembali, terkait efisiensi ini, kita review kembali. Kita memang membutuhkan kendaraan dinas, tetapi bukan Alphard yang harganya mahal itu, tetapi pilihan kita lebih ke mobil listrik, yang lebih ekonomis dan efisien,” urainya.
Ia menjelaskan, mobil listrik ini bisa menghemat setengah harga dari Toyota Alphard.
Kemudian, dengan penghematan ini, Pemkab Toraja Utara bisa membeli lagi aset berupa mobil hybrid, Hyunda.
Mobil hybrid ini bisa menggunakan bahan bakar, juga bisa menggunakan daya baterai.
"Mobilnya juga belum ada, tapi orang sudah ribut. Nda apa-apa, itu tandanya masyarakat kita peka dan terus mengawal pemerintah dalam semua kebijakannya," ungkapnya.
Frederik mengatakan, dengan menggunakan mobil listrik, juga merupakan salah satu bentuk efisiensi. Karena, pemerintah bisa berhemat dari sisi bahan bakar dan pemeliharaan.
“Dari sisi bahan bakar dan pemeliharaan ini, kita bisa berhemat banyak. Belum lagi dari sisi lingkungannya. Kalau Alphard, satu kali perjalanan kita ke Makassar bisa habis Rp 2 juta hanya untuk bensin saja. Tapi kalau mobil listrik paling Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu,” terangnya.
Dedy juga menyatakan, dalam pemerintahannya akan terus menpertimbangkan input dan ouput.
Artinya, setelah mendapat fasilitas mobil dinas, dirinya akan berupaya kerja maksimal kepada masyarakat.
-
"Saya selalu meliat input dan outputnya seperti apa, artinya saya harus mengembalikan 10 kali lipat dari apa yang saya lakukan. Minggu lalu saya ke Makassar, saya bilang ke pak Gubernur saya beli mobil listrik bukan Alphard, katanya bagus sekali, akhirnya kita dijanjikan oleh PLN stasiun pengisian kendaraan listrik umum," ujarnya.
*Diam-diam Lakukan Efisiensi*
Lebih jauh, Frederik menyatakan bahwa dalam beberapa hari terakhir ini, pihaknya melakukan review anggaran di semua Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
"Ini memang belum final ya, tapi anggaran kita di tahun 2025, yang sudah disahkan sebelumnya itu, banyak sekali yang tidak tepat sasaran. Sehingga, mengikuti arahan Bapak Presiden Prabowo, kita coba review kembali dan bisa mendapatkan penghematan yang luar biasa besar,” ungkap Dedy.
Dari upaya penghematan ini, pemerintah mengalokasikannya ke beberapa kegiatan strategis dan mendesak, seperti revitalisasi Sungai Sa’dan, revitalisasi drainase dan Pasar Bolu dan beberapa titik langganan banjir di dalam kota.
Kemudian perbaikan beberapa ruas jalan dalam kota. Pembangunan jalan ke Baruppu’ Parodo dan dari Sapan ke Pulu-Pulu.
"Ini kan isunya mungkin kurang keren, jadi tidak terangkat ke permukaan. Tapi nda apa-apa, kita kerja dalam senyap. Dedy-Andre siap tidak populer demi kebaikan masyarakat," pungkasnya.
Dengan ini Roland lewat Via telpon menyatakan Bahwa," Tidak perlu kita perdebatkan lagi, Kita percayakan kepada Bupati Toraja Utara beserta jajarannya., Kita sebagai Masyarakat bisa menggunakan fungsi kontrol, namun jangan selalu Negative Thinking., Intinya jangan mudah terhasut, tutupnya.
(Amos)